Senin, 16 Maret 2026

Review Film Pencarian Terakhir 2025: Kekuatan mistis dan luka batin bercampur jadi satu



Better kalau luka diberesin dulu deh kalau gak mau dicampurin sama pihak ketiganya, alias setan.

Pemain film Pencarian Terakhir 2025

Tito - Donny Alamsyah, versi 2008 diperankan om Lukman Sardi

Sita - Artika Sari Devi, versi 2008 diperankan Richa Novisha sebelum berjilbab

Bagus - Yama Carlos

Oji - Alex Abbad

Gancar - Tessadesrada Rizya

Drupadi - Adzana Ashel

Raka - Razan Zu

Norman - Andrew Andika, versi 2008 diperankan Mike Muliardo

Kang Bernard - Verdi Solaeman

Ki Tapa - Egy Fedly

Saidah - Ruth Marini

Kang Rohmat - Iqbal Sulaiman, volunteer yang cari Sita dan hilang

Jamal - Fadi Alaydrus

Maya - Dinda Mahira

Ucok - Fatih Unru

Nurul - Alika Jantinia

Hadi - Ramon Y Tungka

Pak Adang - Fuad Idris


Sinopsis

Sekuel cerita dari Tito, Sita, Bagus, Oji yang dulu menyelamatkan Gancar, adiknya Sita dan temen-temen pendakinya kembali menghadapi teror dari penunggu gunung Sarangan. Tito dikisahkan sudah menikah dengan Sita. Sayangnya di awal pernikahan mereka berdua diganggu mimpi buruk oleh penunggu gunung tersebut bernama Ki Tapa. Tanpa disangka, Tito dan Sita yang mengira nyawa mereka yang diincar, ternyata Drupadi, anak merekalah yang terancam nyawanya diambil. 


Suatu hari, di hari ultah Dru yang kesepuluh Sita terbangun dari mimpi buruknya dan mendapati penunggu gunung sedang berada di kamar Dru mengelus puncak kepala anak itu seraya berbisik di belakang Sita mengancamnya untuk memilih dirinya atau Dru yang diambil nyawanya. Tanpa pikir panjang dan bertanya pada sang suami (Tito), Sita pagi itu memutuskan pergi dan hanya meninggalkan sepucuk surat pada Tito yang dititipkan pada Dru. Kelak surat ini yang jadi kunci penyelesaian akhir dari cerita. Sita memutuskan kembali ke Sarangan dan berita menyatakan Sita mendaki sendirian dan hilang di air terjun.


Waktu berlalu, Dru yang telah berusia 17 tahun tumbuh dengan menyimpan trauma dan luka. Trauma di hari ultahnya sang ibu meninggalkannya dengan cara misterius tanpa meninggalkan petunjuk. Dibarengin dengan sikap ayahnya yang dingin berjarak karena luka yang dihadapi sama, ditinggalkan istri yang mengambil keputusan sendiri dan menemukan fakta bahwa hingga Dru dewasa, Sita tidak ditemukan.


Suatu hari, tepat di hari ultah Dru yang ketujuh belas, Dru memiliki keinginan untuk mencari sendiri ibunya di lokasi yang sama Sita menghilang misterius. Dru merencanakan lintas alam bersama geng-nya tapi tanpa berterus terang pada ayahnya. Tanpa diduga ternyata Tito merencanakan surprise ulang tahun untuk Dru. 


Ternyata surprise itu tak kunjung bisa dirayakan, karena Tito tiba-tiba ditelpon Jagawana yang memberitahu kalau rombongan Dru hilang di Sarangan. Padahal malam sebelumnya Dru izin ke Tito lintas alamnya seputar Bogor aja. Jelas Tito panik dan marah karena selain dibohongi anaknya, Sarangan adalah tempat kenangan pahitnya saat kehilangan Norman dan ketika harus bertaruh nyawa menyelamatkan Gancar, adik Sita, istrinya. Plus juga tempat kenangan pahit Sita hilang karena mengorbankan nyawanya supaya Tito dan Dru selamat.


Terus, apakah Tito berhasil menyelamatkan Dru dan berhasilkah Dru dan Tito ketemu Sita atau kah ada rahasia kelam di dunia gaib Sarangan yang selama ini belum terpecahkan di film pertamanya? Mending nonton sendiri deh di Netflix.



Review ala Studio Nana.

Ini review dari sudut pandang gue yah. Jujur gue sih gak terlalu antusias waktu trailernya muncul sampai pas heboh diputer di bioskop. Bukan karena ceritanya tapi lebih ke pemain utamanya yakni Tito dan Sita bukan lagi om Lukman Sardi dan kak Richa Novisha. Ini bukan karena Donny Alamsyah atau Artika gak mampu memerankan, tapi lebih ke vibe nya aja sih yang kurang. Kadang pemeran film ketika diganti entah kenapa jadi agak berbeda aja rasanya, seperti kehilangan jiwa di perannya. Huaah jadi puitis deh.


Ok, walau gue gak nonton di bioskop, tapi akhirnya gw tergoda buat nonton di Netflix. Pengen tahu ceritanya karena Netflix gencar juga promonya sampe masuk ke FYP sosmed gue. Now, let's read my opinion about this sequel.


Jujur, premis cerita cukup menjanjikan karena sutradaranya masih orang yang sama yakni Affandi Abdul Rahman. Gue suka karena cerita ini juga mencoba menjawab sebenarnya apa sih yang dialami orang-orang yang hilang di gunung tapi bisa balik lagi. 


Cerita sekuel ini juga sekaligus mencoba menjawab tantangan sikap skeptis penonton Indonesia tentunya. Sikap skeptis terhadap film horor biasanya yang hanya diisi dengan jump scare gak penting atau elemen mesum. Sekuel ini justru minim hal di atas, karena fokusnya pada bagaimana luka batin sembuh, keikhlasan tentang kehilangan, berani menghadapi trauma, dan menahan godaan. Ada sih romannya antara Dru dan pacarnya, tapi ga ada adegan ciuman atau apapun hal itu. Ya kali bisa diprotes netizen Konoha plus kena sensor duluan.


Walau secara premis keseluruhan bagus, tapi gue masih merasa Affandi kali ini kurang begitu fokus mengeksekusi ceritanya. Ada beberapa bagian yang justru membingungkan seperti adegan makan makanan sesembahan yang disebutkan dilarang. Kalau di versi sebelumnya, pemeran Nisa yang justru digoda setelah makan makanan sesembahan sama kakek penunggu gunung yang mesum. 


Tapi kali ini lebih serem, siapa yang makan jadi budak, alias gak bakal pernah balik ke dunia nyata. Terus penunggu gunungnya lebih diperlihatkan sejarahnya dan kisah mistisnya.


Nah yang menurut gue agak aneh itu, waktu di versi sebelumnya Norman tuh ditinggalkan di gubuk sama Tito, tapi di versi sekuel ternyata Tito yang makan makanan terlarang terus jadi dimakan jiwanya sampai mendorong si Norman ke jurang. Padahal awalnya Norman hilang gara-gara ditinggal di gubuk. Buat kamu yang pernah nonton versi sebelumnya pasti tahu itu di adegan awal. Ini yang membingungkan buat gue dari sisi cerita. Jadi sebenarnya si Norman bisa pincang kakinya dan harus digendong tuh karena didorong Tito? Lah terus fungsi gubuk yang menghilangkan sosok Norman itu di awal apaan? Kayaknya Affandi lupa plot cerita ini deh, hmm aneh padahal dia sendiri sutradaranya.


Kebingungan kedua gue ini yang di adegan terakhir. Berkaitan sama sukma yang masuk ke dunia gaib dan karena makan makanan sesembahan. Jadi karena dulu si Tito udah makan makanan itu tapi berhasil selamat si penunggu nya ngamuk dan pengen bawa jiwa si Tito. Cuma satu kebingungan gue, kan ceritanya si Tito bawa air doa pak Adang buat diraup ke wajah Sita dan Dru dan katanya cuma bisa buat 2 jiwa. Lah harusnya kan si Tito tetep bisa balik gak sih? Tapi malah Tito membiarkan jiwanya diambil sama si penunggu gunung. Buat gue ini rada kompleks dan sulit dipahami orang awam yang suka story dan ngulik cerita.


Tapi ya, menurut gue nih penunggu agak sakit sih jiwanya. Dia yang ceroboh makan eh die juga yang gak terima pas ada yang makan dan nyeret penduduk yang gak tau soal pantangan itu buat diambil jiwanya jadi budak. Kasarannya dia butuh temen kali ya di dunia gaib. Kocak plus stress.


Punchline nya kalau buat promosi nih film cocoknya:

Jangan suka mengambil makanan punya setan kalau gak mau dipenjara di dunia mereka. 

Atau cocoknya mungkin ini:

Makan di warung ini auto jadi WNDL (warga negara dunia lain).


But, ending terburu-buru itulah yang banyak dibicarakan penikmat film. Tapi kalau menurut gue justru bukan ending akhir, namun klimaks cerita dan plot hole soal Norman yang membingungkan karena tidak sama dengan versi 2008.


Rate film ini

Storytelling: 7,5

Lagu: 7,5

Visual: 10 alias keren, mistisnya dapet banget

Acting pemain: 8,5 karena Gancar chemistry dengan Sita masih kurang menurutku dibanding tahun 2008 kayak orang gak kehilangan sang kakak, datar banget. Sisanya masih ok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar