Zombie films are usually loud. Chaotic. Designed to overwhelm you.
Abadi Nan Jaya doesn’t really follow that pattern.
Instead of going bigger, it goes tighter. And somehow, that makes everything feel closer. Not explosive, but pressing.
Baca, Nonton, Makan, Nulis adalah hobiku. Jadi kalau ditanya kenapa tenggelam banget dengan hobi? Ya karena hobi sama dengan dunia sendiri. Di sini semua tentang hobi akan dibahas, anything yang masih berkaitan dengan hobiku akan dibahas
Abadi Nan Jaya doesn’t really follow that pattern.
Instead of going bigger, it goes tighter. And somehow, that makes everything feel closer. Not explosive, but pressing.
Huaah sudah lama ya gue gak nge-review film lagi dan hari ini gue tergelitik buat kritik salah satu film Indonesia. Gue mau tumpahkan semua hal yang ada di kepala tentang film ini. Dari positif sampai negatif semuanya tertuang. Ada satu hal yang sangat mengganjal yaitu...baca deh sampai habis ya
Ini jadi pertanyaan hampir semua orang terdekat gue, waktu gue mutusin travelling ke Semarang akhir tahun 2022. Padahal kalau mau ditelusuri lebih jauh, Semarang tuh juga punya nilai jual, salah satunya heritage atau bangunan peninggalan zaman Belanda yang sekarang disebut Kota Tua Semarang/Semarang Lama. FYI, gue tuh pecinta sejarah dan kuliner. Sejarah tuh kayak misteri yang belum pasti kebenarannya karena sejatinya sejarah itu biasanya diklaim oleh pihak yang saat itu berkuasa atau menang. Hanya bangunan fisik yang jadi saksi bisu atau jejak sebuah kisah di masa lampau. Jadi pertanyaannya gue mau ngapain sih sebenarnya ke Semarang? Kulineran atau jalan-jalan menyusuri masa lampau? Ikuti jejak cerita gue yuk!
Buat elo dan gue yang sehari-harinya kerja di dunia kreatif, especially dunia agency (periklanan), film ini mengupas semua yang terjadi dan dialami anak-anak kreatif. Mulai dari bos yang workaholic, bos yang kerjanya jilat atasan, sampai persaingan pitching antar agency dan antar tim kreatif dalam satu company, lembur-lemburan nyiapin konsep cuma seminggu, belum lagi ngadepin client yang kasih brief aja gak jelas, nyuruh anak creative buat mikir (dikira robot, wakakaka). Romance nya juga ada, jokes nya juga ada. Nih drakor ngajarin gue banyak hal. Terutama ngadepin musuh dan gak melihat sesuatu dari yang tampak luar aja. Udah ah, langsung aja gue bahas.
Kali ini aktivitas di hari terakhir gue dimulai dari jam 8 pagi. Dimana gue bakalan nyoba jadi first foodie yang nyoba makan roti bakar khas Penang Toh Soon Cafe. Kenapa gue milih pagi? Karena di hari ini gue harus beli oleh-oleh roti dengan toping babi pesanan ibu rohani gue. Let's enjoy read my travel story!
Penang part selanjutnya bakal gue ceritain, mulai dari makan roti bakar asli Penang yang super duper ngantri, iseng nyari tempat kampus yang jadi impianku buat belajar nantinya, sampai makan nasi yang bentuknya kayak nasi kucing di area yang biasanya jadi semacam pasar gitu. Ok, lanjut aja ya
Hari kelima gue bangun siang, jam 9-an, antri sarapan, sayangnya gak sempat main ke Pantai Batu Feringgi, tapi main ke kampus terkenal di sana KDU Penang University College.